![]() |
| Aksi damai Makassar dari Indonesia di Monumen Pembebasan Irian Barat, Jl Jenderal Sudirman, Makassar, Sulsel, Senin (2/9/2019). |
Elemen masyarakat yang hadir yakni organisasi kemasyarakatan pemuda (OKP) Kota Makassar, OPD Kota Makassar, Ormas dan komponen Masyarakat Kota Makassar dengan tema Apel Kabangsaan "Dari Makassar untuk Indonesia Damai"
Mereka menyampaikan perdamaian atas kerusuhan dan rasis yang terjadi di beberapa wilayah di Provinsi Papua dan Papua Barat.
Kasus ini bermula kala terjadi aksi protes Manokwari, Papua, Senin (19/8). Kondisi ini terjadi setelah aksi protes warga Papua diwarnai ricuh, blokade dan, pembakaran.
Kericuhan di Manokwari bermula dari berbagai unjuk rasa kelompok mahasiswa Papua yang diduga mendapat tindakan diskriminatif dan rasis.
Unjuk rasa ini memperingati Perjanjian New York 1962 antara Indonesia dan Belanda.
Rusuh terjadi di Jayapura, Sentani Papua Barat, Malang Jawa Timur; Ternate, Maluku Utara; Ambon, Maluku; Sula, Maluku; Bandung, Jawa Barat.
Bahkan, sempat terjadi kerusuhan di Asrama Papua Makassar, Jl Lanto Daeng Pasewang, Senin (19/8/2019) malam.
Setelah itu, Pemerintah Kota Makassar menginisiasi penggalangan solidaritas damai untuk Papua. (*)
Deklarasi Damai Makassar untuk Indonesia:
![]() |
| Dr Syamsuddin Radjab SH MH |
Anda tahu bagaimana jadinya ketika begal menjadi Anggota DPRD Makassar?
Tanyakan itu kepada Anggota DPRD Makassar dari Fraksi Partai Hanura, Jufri Pabe.
Namun, Jufri Pabe bukan jagal yang merisaukan Makassar belakangan ini.
Ia adalah jagal sapi atau pemotong sapi di daerah Antang, Manggala. Jufri juga adalah bos Tukang Jagal Sapi atau Ketua Asosiasi Pemotong Hewan di Rumah Potong Hewan, Antang, Manggala.
"Kalau begal sapi tak perlu gunakan otak tinggal baca basmalah langsung potong. Kalau di sini sangat perlu gunakan otak, ada mi hitung-hitungnya. Ada tommi lagi politiknya," ujar Anggota Komisi A DPRD Makassar ini.
Ketika turun ke 'arena' potong hewan, temannya sering kali menanyakan perasaannya menjadi anggota dewan.
"Banyak yang bertanya? Saya bilang jadi tong ki supaya bisa dirasakan karena agak beda ki ini," ujarnya.
Ia pun mengakui masih sering dimintai uang ketika turun melakukan reses atau kunjungan kerja.
"Saya bilang kita ini tak kelola uang, yang kelola itu pak wali jadi kita hanya liat saja itu kertas lalu lalang," ujarnya.
Namun, Jufri mengakui menjadi anggota dewan bukan untuk mencari uang tapi mewakili daerah pemilihannya, Pannakukang-Manggala.
"Kalau saya mau cari uang, lebih banyak itu lewat potong hewan ketimbang di sini," ujarnya. (*)



